Sudah kupimpin negeri ini selama 7 tahun. Selain 'Sang Raja', tak ada presiden terdahulu yg sampai dua kali diberi kepercayaan oleh rakyat. Dan selain 'Sang Raja' pula, negara ini tak banyak kemajuan, sampai akhirnya aku memimpin.
Aku sudah meredam pemberontakan, aku sudah membuat lembaga independen, sudah mempertahankan harga BBM bersubsidi, tapi rakyat belum juga puas. Kapan mereka akan bersyukur?
Mestinya mereka tahu, memimpin negara ini adalah beban berat. Bawahan - bawahanku banyak yg kurang jujur. Aku mengatakan 'banyak' artinya bukan semua. Tiap malam aku stress. Tidurpun sudah tidak nyenyak. Aku tidak mempersalahkan itu, seorang pemimpin tidak seharusnya banyak tertidur.
Aku pun tak dapat menyalahkan rakyat kecil. Hidup mereka ada di kursiku. Terngiang janji - janji yg sudah kuucapkan sewaktu kampanye dulu. Berapa yg sudah kutepati, aku juga tidak tahu. Yang aku pikirkan saat itu hanyalah, rakyat harus memilihku dan kubawa negeri ini bangkit dari keterpurukan. Apapun caranya. .
Namun setelah sekian lama, hujan protes mulai menimpaku. Aku disindir, dituntut, dan aku hanya diam. Pernah aku angkat bicara di media, tapi balasan mereka adalah, 'Presiden kita terlalu sensitif, masalah kecil saja diributkan.'. Ya sudah lain kali aku diam saja, ya. Padahal niatku cuma menjernihkan masalah yg ada. Ingin menunjukan bahwa aku hanya tidak berdiam diri. Aku ingin mereka tahu, bahwa aku juga peduli.
Banyak yg berpendapat negeri ini amat bobrok. Terutama masalah korupsi dan hukum. Dikatakan bahwa negeri ini adalah negeri terkorup di dunia. Entah siapa yg memberi ranking, sampai sekarang aku belum terima rapotnya. Aku amat menyesali ini, mungkin tabiat korupsi sudah melekat. Tidak korupsi sama dengan kalah.
Sedangkan jika aku melihat wacana - wacana politik di televisi. .yg ada adalah. .
'Coba lihat di Amerika, sistem mereka seperti ini. . ', 'Coba lihat di Jepang, mereka amat bla bla bla. .,' kata para pendapat ahli membanding - bandingkan negeri ini dengan negara lain. Apa mau dikata, negeri ini memang sudah tertinggal jauh. Negara lain sudah memakai harga minyak global, orang di sini masih setia dengan minyak subsidi. Ingin kucabut subsidi supaya uang negara bisa dihemat, tapi khawatir orang kecil di sana akan menjerit. Apalagi jika kulihat Honda CRV membeli premium. Ingin kusepak bempernya.
Ada yang menyarankan: daripada mengurusi subsidi, urus dulu hukum di negara ini.
Ada benarnya juga. Sebenarnya aku punya ide. Bagaimana kalau orang - orang yg berkekuasaan hukum diambil dari tokoh agama. Orang yang takut akan barang haram. Tapi sepertinya tidak ada tokoh agama yg SH, ya?
. . .
Seorang laki - laki berseragam perwira berjalan ke arahku. Suaranya gahar, 'Pak, pers sudah berkumpul. Naskahnya siap,' katanya singkat.
Aku rapikan sebentar dasiku. Aku berjalan tegap. Dengan suara wibawaku, semoga rakyat mengetahui bahwa aku masih peduli dengan negeri ayahku ini. .
Aku sudah meredam pemberontakan, aku sudah membuat lembaga independen, sudah mempertahankan harga BBM bersubsidi, tapi rakyat belum juga puas. Kapan mereka akan bersyukur?
Mestinya mereka tahu, memimpin negara ini adalah beban berat. Bawahan - bawahanku banyak yg kurang jujur. Aku mengatakan 'banyak' artinya bukan semua. Tiap malam aku stress. Tidurpun sudah tidak nyenyak. Aku tidak mempersalahkan itu, seorang pemimpin tidak seharusnya banyak tertidur.
Aku pun tak dapat menyalahkan rakyat kecil. Hidup mereka ada di kursiku. Terngiang janji - janji yg sudah kuucapkan sewaktu kampanye dulu. Berapa yg sudah kutepati, aku juga tidak tahu. Yang aku pikirkan saat itu hanyalah, rakyat harus memilihku dan kubawa negeri ini bangkit dari keterpurukan. Apapun caranya. .
Namun setelah sekian lama, hujan protes mulai menimpaku. Aku disindir, dituntut, dan aku hanya diam. Pernah aku angkat bicara di media, tapi balasan mereka adalah, 'Presiden kita terlalu sensitif, masalah kecil saja diributkan.'. Ya sudah lain kali aku diam saja, ya. Padahal niatku cuma menjernihkan masalah yg ada. Ingin menunjukan bahwa aku hanya tidak berdiam diri. Aku ingin mereka tahu, bahwa aku juga peduli.
Banyak yg berpendapat negeri ini amat bobrok. Terutama masalah korupsi dan hukum. Dikatakan bahwa negeri ini adalah negeri terkorup di dunia. Entah siapa yg memberi ranking, sampai sekarang aku belum terima rapotnya. Aku amat menyesali ini, mungkin tabiat korupsi sudah melekat. Tidak korupsi sama dengan kalah.
Sedangkan jika aku melihat wacana - wacana politik di televisi. .yg ada adalah. .
'Coba lihat di Amerika, sistem mereka seperti ini. . ', 'Coba lihat di Jepang, mereka amat bla bla bla. .,' kata para pendapat ahli membanding - bandingkan negeri ini dengan negara lain. Apa mau dikata, negeri ini memang sudah tertinggal jauh. Negara lain sudah memakai harga minyak global, orang di sini masih setia dengan minyak subsidi. Ingin kucabut subsidi supaya uang negara bisa dihemat, tapi khawatir orang kecil di sana akan menjerit. Apalagi jika kulihat Honda CRV membeli premium. Ingin kusepak bempernya.
Ada yang menyarankan: daripada mengurusi subsidi, urus dulu hukum di negara ini.
Ada benarnya juga. Sebenarnya aku punya ide. Bagaimana kalau orang - orang yg berkekuasaan hukum diambil dari tokoh agama. Orang yang takut akan barang haram. Tapi sepertinya tidak ada tokoh agama yg SH, ya?
. . .
Seorang laki - laki berseragam perwira berjalan ke arahku. Suaranya gahar, 'Pak, pers sudah berkumpul. Naskahnya siap,' katanya singkat.
Aku rapikan sebentar dasiku. Aku berjalan tegap. Dengan suara wibawaku, semoga rakyat mengetahui bahwa aku masih peduli dengan negeri ayahku ini. .