Kamis, 01 September 2011

Kenapa Ngemis?



Apakah kalian mengeluarkan rasa iba bila mereka mengulur telapak tangannya?

Kalau kalian iba, ibalah kepada keluarga mereka yg jatuh martabatnya.

Di dunia ini siapa yg mau bilang, 'pekerjaan ibuku mengemis. .' bila ditanya, 'apa pekerjaan orang tuamu?'

Mereka berkumpul di depan masjid dengan baju lusuh dan awut - awutan. Berharap kalau orang yg sehabis sembahyang mencair belas kasihannya untuk mereka. Yg ada malah mereka itu merusak pemandangan.

Jika aku punya kesempatan untuk bertanya kepada mereka, aku ingin bertanya:

Kenapa kamu tidak bekerja?

Kamu punya agama?

Kalau punya, kenapa setiap acara keagamaan cuma kamu yg menunggu di luar dan tidak sembahyang?

Dan. .itu anaknya kenapa ga sekolah?


Mereka masih kuat untuk berjalan berkilo - kilo meter sambil menggendong anak. Kenapa tidak mencoba jadi buruh? Logisnya, mereka itu malas. Mereka menemukan kemudahan dalam mengemis. Tidak butuh keahlian, tidak butuh keringat. Hanya berkorban sandal jepit yg rusak.

Pengecualian, untuk para orang tua yg sudah renta dan yg cacat fisik. Sehingga tidak bisa mendapat pekerjaan. Bisa kubayangkan bila kita diposisi mereka. . .

Menjalani hari - hari senja. Tanah dan sawah sudah diwariskan pada anak - anak, tapi ternyata mereka melupakan orang tua yg cuma lulus SD ini. Tidak punya apa - apa lagi untuk ditukar menjadi uang. Bahkan kekuatan dan kesehatan pun sudah habis untuk sekedar menjadi buruh. Bisa dipahami mereka mengemis. Begitu pula dengan yg cacat.

Merekalah yg dalam agama, berhak menerima zakat. *Fakir miskin (*orang miskin yg tidak punya pekerjaan). Orang yg tidak punya pekerjaan di sini maksudnya adalah orang yg sudah tidak mampu untuk bekerja.

Dulu ada di SD Muhammadiyah 1 Denpasar Jl. Imam Bonjol (mungkin yg dari Bali tahu?). Di situ ada nenek - nenek yg setiap hari duduk di depan pagar sekolah. Dia mengemis. Biasanya orang - orang memberi dia nasi kuning kotakan, atau uang beberapa ribu. Tidak jarang setiap aku diantar ke sekolah oleh bapak, bapak menitipkan uang supaya diberikan kepada nenek pengemis. Aku berikan Rp.1000, tanganku digenggam, sambil tersenyum dia mendoakan. Lupa kata - katanya, yg jelas dia mendoakan belajarku.

Ini salah satu pengemis yg memancing rasa iba. Sempat masuk majalah keagamaan, ternyata dia tinggal di rumah (atau kamar?) ukuran 3x2 dan hidup sebatang kara. Sekarang kalau aku lewat SD ku itu, orangnya sudah ngga keliatan lagi.

Sayangnya, yg muda - mudi malah ikutan mengemis. Tidak pernah aku berikan sereceh pun. Malas dengan orang malas.

Urgh, by the way, kalo pengemisnya kayak di bawah ini, kalian bakal gimana? :D