Apakah kalian mengeluarkan rasa iba bila mereka mengulur telapak tangannya?
Kalau kalian iba, ibalah kepada keluarga mereka yg jatuh martabatnya.
Di dunia ini siapa yg mau bilang, 'pekerjaan ibuku mengemis. .' bila ditanya, 'apa pekerjaan orang tuamu?'
Mereka berkumpul di depan masjid dengan baju lusuh dan awut - awutan. Berharap kalau orang yg sehabis sembahyang mencair belas kasihannya untuk mereka. Yg ada malah mereka itu merusak pemandangan.
Jika aku punya kesempatan untuk bertanya kepada mereka, aku ingin bertanya:
Kenapa kamu tidak bekerja?
Kamu punya agama?
Kalau punya, kenapa setiap acara keagamaan cuma kamu yg menunggu di luar dan tidak sembahyang?
Dan. .itu anaknya kenapa ga sekolah?
Mereka masih kuat untuk berjalan berkilo - kilo meter sambil menggendong anak. Kenapa tidak mencoba jadi buruh? Logisnya, mereka itu malas. Mereka menemukan kemudahan dalam mengemis. Tidak butuh keahlian, tidak butuh keringat. Hanya berkorban sandal jepit yg rusak.
Pengecualian, untuk para orang tua yg sudah renta dan yg cacat fisik. Sehingga tidak bisa mendapat pekerjaan. Bisa kubayangkan bila kita diposisi mereka. . .
Menjalani hari - hari senja. Tanah dan sawah sudah diwariskan pada anak - anak, tapi ternyata mereka melupakan orang tua yg cuma lulus SD ini. Tidak punya apa - apa lagi untuk ditukar menjadi uang. Bahkan kekuatan dan kesehatan pun sudah habis untuk sekedar menjadi buruh. Bisa dipahami mereka mengemis. Begitu pula dengan yg cacat.
Merekalah yg dalam agama, berhak menerima zakat. *Fakir miskin (*orang miskin yg tidak punya pekerjaan). Orang yg tidak punya pekerjaan di sini maksudnya adalah orang yg sudah tidak mampu untuk bekerja.
Dulu ada di SD Muhammadiyah 1 Denpasar Jl. Imam Bonjol (mungkin yg dari Bali tahu?). Di situ ada nenek - nenek yg setiap hari duduk di depan pagar sekolah. Dia mengemis. Biasanya orang - orang memberi dia nasi kuning kotakan, atau uang beberapa ribu. Tidak jarang setiap aku diantar ke sekolah oleh bapak, bapak menitipkan uang supaya diberikan kepada nenek pengemis. Aku berikan Rp.1000, tanganku digenggam, sambil tersenyum dia mendoakan. Lupa kata - katanya, yg jelas dia mendoakan belajarku.
Ini salah satu pengemis yg memancing rasa iba. Sempat masuk majalah keagamaan, ternyata dia tinggal di rumah (atau kamar?) ukuran 3x2 dan hidup sebatang kara. Sekarang kalau aku lewat SD ku itu, orangnya sudah ngga keliatan lagi.
Sayangnya, yg muda - mudi malah ikutan mengemis. Tidak pernah aku berikan sereceh pun. Malas dengan orang malas.
Urgh, by the way, kalo pengemisnya kayak di bawah ini, kalian bakal gimana? :D
7 komentar:
kalo secantik itu sih, mana bisa nolak ya. hehee
sayang ya, mereka ga mau berjuang lebih keras lagi. nanti saya ada rencana ngebikinin mereka surat lamaran dan nganter ke perusahaan yang punya lowongan. biar mereka melamar kesana. atau ke yang nyari pembantu mungkin. :)
btw, foto yg di bawah itu, ga bakal gue kasi uang. mau langsung ta bawa ke rumah..:)))
Kalo yang ngemisnya kayak gitu...Saya bilangin...
"Mbak ngapain ngemis, kerja aja yuk di toko saya, jadi recepsionist (juru masak) ? ..loh..salam kenal...
http://arrrian.blogspot.com/
wah yang terakhir pengemisnya cuantik... saya bawa pulang aja.. ntar makan bareng dirumah... *tapi dia yang masak ma blanja..* haha..
jadi kan ada alsan klo ibu tanya "itu siapa".. tinggal jawab "pembantu baru mah.." dahsyat..
mantap wan.... klo dy jd yg ngmis..langsung tak bw plg..tak jdin tkang brshin kmr q...wkwkwkwkwk...
hahaha agree. kalo masih kuat kerja mending pemulung atau prt..
bytheway udah tau belom kalo pengemis gitu jg ga jarang yg penghasilannya ratusan ribu perhari. lol
kunjungan gan.,.
bagi" motivasi.,.
fikiran yang positif bisa menghasilkan keuntungan yang positif pula.,..
di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,
Posting Komentar