Sabtu, 22 September 2012

His Story was Mine

Di tengah tidur siang yg sunyi, saya terngiang masa kecil saya. Masa ketika SD, masih lugu, masih item, masih dekil, dan......masih jomblo. (ya iyalah yaw sekarang juga masih, bukannya promosi sih, oke maap).

Rambutku masih poni. Mirip bakul nasi. Badanku kurus, pipi tembem. Dan aku paling takut sama yg namanya keadaan 'sendirian'.

Ingin aku bertemu kembali dengan masa kecilku. Ingin kuelus kepalanya, karena aku ingat malangnya masa bermain anak ini. Ia sering iri dengan temannya yg kaya, yg punya playstation, mobil remote, dan punya uang jajan setiap kali diminta. Dalam hati lugunya, selalu berkata: "aku ingin pinjam.."

Namun. Dan ini penting. Anak ini tak pernah sekalipun merasa miskin.

"Hei, kasian tu si Iwan. Dia anak miskin.."

Setiap mendengar perkataan temannya, ia selalu terdiam. Hati kecilnya mengelak, "aku anak miskin? nggak kok!". Coba, miskin dari mana, wong perutnya ga pernah kelaparan. Emang sih rumah ngontrak, ga punya mainan mahal, tapi setiap ada uang, uang itu dipakai beli makanan enak :D Yummyy.

Itu lah, jadi bagaimana bisa ia merasa miskin? Apa mungkin gara - gara penampilannya yg urakan kali ya..

Segala puji kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Mencukupi Rezeki kepada anak ini.

Dulu, bekal sekolah Rp.500, dikala teman - teman bekelnya pada Rp.2000. Dicukup - cukupin, pake beli tempe 1, atau permen 5. Makanya anak ini sering ngiler kalo liat temennya makan Chiki. Hahahaha. Diiik, diik.

Aku juga merasa salut, kadang merasa malang. Salutnya adalah dia sanggup jadi nomor 2 di kelas, dan larinya paling cepat nomer 3 se-kompleks! (nomer 1 angga, nomer 2 koming, yeah, I still remember!). Bertiga ini emang kalo lagi boring, suka adu sprint 30 meter. Dan malangnya, ia sering di-"anak buahkan" sama kakak yg lebih gede.

Contoh, dia dulu punya teman, namanya Wendy (nama sebenarnya, siapa tahu kalian ketemu XD) 3 tahun lebih tua. Ke mana-mana mereka main bersama. Si Wendy naik sepeda, Si Iwan lari mengikuti. Bagai anak buah yg mengabdi, ia setia mengikuti. Disuruh ke warung, berangkat. Disuruh ngawal, ya nurut. Dan Wendy setiap ketemu temannya, ditanya:

"siapa ini, wen?"

"ini anak buahku..."

....:@ :@ :@ :@...

Iblis sipit ini bener - bener keterlaluan.

Itu semua terjadi dari rentang aku kenal Wendy, sampai aku pindah kontrakan. Sekitar beberapa bulan saja.

Itulah, seserpih kisah Iwan kecil. Aku di masa lalu. Seandainya laci mejaku mesin waktu, aku akan datang ke masa lalu. Mengabarkan, kehidupannya akan lebih baik esok..

Aku mau bilang, suatu saat kamu akan punya rumah sendiri, masuk sekolah menengah atas bergengsi di-bali, dan punya adik perempuan. Dan yg paling penting, suatu saat nanti, kulit kamu akan putih! Nah, seneng gak, Dik Iwan? Hahahaha! *masuk kembali ke lubang waktu*