Di saat saya menulis blog ini, listrik lagi mati suri! Jadwal biasalah, PLN jadi kayak punya ritual puasa begini. Bapak dan Ibu pergi, menjadi bodyguard (atau lebih mirip bebisiter) menjaga adik – adik di rumah. Yg satunya penakut, yg satunya lelet kayak lele.
Mengusir kebosanan ya hanya dengan menulis blog ini. HEHEHE. Emergency Light sudah menerangi kamar saya, batere Laptop semakin sekarat. Kalian tau sendiri’kan? Di dunia ini, sepertinya hanya laptop dan Hp barang elektronik yg mampu menahan hawa dan nafsu melaksanakan puasa listrik ini.
Okay, mati listrik, jadilah rumah saya gelap. Batere senter di rampas buat tamiya sama adek (^&**$##&), ruang TV gelap mirip Gua Jepang karena Emergency Light dialihkan ke laboratorium saya (baca: gudang), dan badan berkeringat karena saya rawan dengan serangan panas. Kalo suhu naik 50 derajat selsius lagi, saya bisa nangis – nangis dan pingsan dalam keadaan setengah matang.
Listrik mati memang kadang – kadang menimbulkan banyak masalah buat saya. Salah satunya, saya menjadi susah untuk membedakan yg mana closet dan yg mana bak mandi. Tapi itu sekarang dapat di atasi karena sekarang saya lebih memilih kencing di sawah. Yah, paling gak saya dapat membantu petani untuk memupuki padi mereka. Biar subur.
Okelah. Dan sampai saya selesai menulis update kecil ini listrik masih juga belum nyala. Tapi saya paham akan keterbatasan PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional karena suatu masalah. Kita harus berbagi listrik dengan orang lain. CIHUYYY
1 komentar:
emang sebel kalo listrik mati. huuuh
Posting Komentar