Minggu, 02 Mei 2010

Hantu yang Terganggu

       Di suatu malam. Dinihari tepatnya. Berjalan seorang remaja yang sedang kebagian tugas ronda. Ia berjalan santai dengan sarungnya diselempangkan di pundaknya dan topi hangat di kepalanya. Di saat ia mengawasi lingkungan sekitar,  matanya mengarah ke balkon sebuah rumah tak berpenghuni. Jantungnya seakan mau meledak ketika yang dilihatnya ternyata 'putih - putih - berambut - panjang' sedang berdiri tegap dengan wajah mengarah ke bawah.  Dia spontan lari tungang - langgang sambil teriak, 'WAAAAA!!'


       Kabar ini langsung menyebar ke seluruh kompleks. Akibatnya banyak remaja - remaja yang sering tidak hadir ronda dengan berbagai alasan. Hal ini membuat para orang tua resah. Termasuk bapak - bapak bernama Kadir dan Dirman.
       'Anak'ku jadi penakut sekali sejak cerita itu. Ada apa sih sebenarnya?' Tanya Kadir kepada Dirman.
       'Sama, Dir. Anak'ku juga. Padahal sudah kelas 3 SMA..apa sebegitu seremnya?..,' Dirman membetulkan sarungnya. 'Setauku engga ada yang lebih serem dari mertuamu.'

       'Hus! Mertuaku itu keturunan bangsawan tau!' Jawab Kadir ketus.
       'Tapi tetap saja tinggal serumah denganmu..hahahaha!'
       'Hehehe. Dia memang ingin melihat anak - anak'ku tumbuh, Man.' Kadir menjawab halus.
       Obrolan seusai sholat maghrib itu dipotong oleh kehadiran bapak - bapak bernama Slamet. Slamet adalah orang Jawa tulen dan sangat jarang bicara bahasa Indonesia.
       'Yo opo iki rek. Anak - anak'ku kabeh keweden ga karuan. (Gimana ini, bung. Anak - anak'ku semua ketakutan tidak karuan.)' Slamet mengajak mereka ngobrol.
       'Podo, Mas. Ini anak kami juga ketakutan semua sejak cerita 2 hari yang lalu.' Dirman menjawab dengan tampang putus asa.
       'Yo wes! Aku kate nyobak ndelok ono opo seh ndek omah elek iku. Ora wedi aku. (Ya sudah! Aku mau coba lihat ada apa sih di rumah jelek itu? Tidak takut aku).' Slamet berkata dengan beraninya.
       'Aku ikut, Mas Slamet!' Kadir memohon turut serta.
       'Kalau begitu, aku juga!' Dirman ikut - ikutan.

-------

       Jam 00.00 WIB mereka berkumpul di warung tempat mereka bercengkrama tadi maghrib. Warung itu memang terkadang buka sampai pagi. Paling tidak jam 04.00 WIB sudah tutup. Tiga bapak - bapak sudah lengkap membawa peralatan seperti senter, kopyah, sandal, sarung, dan rokok. 
       'Wes siap tah? (Sudah siap nih?)' Slamet memastikan. 
       'Tentu Mas Slamet.' Kadir dan Dirman menjawab bersamaan. 

       Mereka mulai berjalan beriringan. Malam itu memang tidak ada orang yang meronda selain mereka. Semua warga sudah kadung paranoid dengan penampakan tersebut. Mereka ke Rumah tempat penampakan itu untuk membuktikan bahwa hal seperti itu bukanlah sesuatu yang pantas ditakuti. 
       'Koe kabe ora ono seng gowo arit? (Kalian semua tidak ada yang membawa clurit?)' Slamet bertanya di tengah berjalan kaki. 
       'Waduh. Tidak ada nih, mas. Yang ada cuma sepasang sandal ini. Lumayan bisa dilempar kalau hantunya nongol.' Kadir tampak putus asa. 
       'Kamu ini gimana? Lihat aku! Aku bawa pentungan. Lumayan'kan?' Dirman memamerkan pentungan'nya yang berukiran "Dirman Love Asri 4ever". Norak. Sepertinya nama istrinya.

       Sekarang berdiri megah rumah tak berpenghuni yang digunjingkan para warga di kompleks. Mereka bertiga berdiri berjejer sambil terpana melihat rumah mewah yang tak terurus itu. Terlihat ekspresi dan bahasa tubuh mereka berbeda satu sama lain. Kadir melongo, Dirman gemetar kakinya, Slamet menari hujan. Oh salah. Slamet melotot siap - siap menggapai clurit di pinggangnya.
       'Ayo mlebu! (Ayo masuk!)' Kata Slamet sambil menggoyangkan kepalanya ke arah gerbang rumah. 
       'Hah?!....,' Dirman menelan ludahnya. 'Ki-ki-kita ma-masuk, mas???' 
       'Ho - oh!!' Slamet menjawab tegas. 
       Kadir dan Dirman terpaksa mengikuti pemimpin 'Operasi Malam' mereka, Pak Slamet. Memang di antara mereka, Pak Slamet yang paling tua.  Dirman, 44. Kadir, 38. Slamet, 53. Istilahnya, Pak Slametlah yang menduduki tahta sosial yang paling tinggi di antara mereka bertiga. 

       'Kreeeeeek' Pintu rumah dibuka oleh Pak Slamet. 'Ternyata tidak dikunci, ya?' kata Dirman. Pak Slamet menyiagakan cluritnya 30cm dari hidungnya. Dirman memegang pentungan dengan gaya samurai. Kadir cuma membungkuk menahan kencingnya di punggung Dirman. 
       Dalam investigasi ini, Slamet tidak bermaksud menganggu si hantu dan rumahnya. Tapi hanya ingin bertanya sedikit dengan si hantu berbekal kemampuan spiritualnya yang tinggi.  Dia memang terkenal dengan kealiman agamanya. Terbukti dia sudah haji dan selalu menjadi imam tiap sholat wajib di masjid. Namun begitu, dia tetap menyiagakan cluritnya. 

       Hanya senter yang menerangi rumah tersebut. Tiba - tiba timbul sesosok 'putih - putih - berambut - panjang'. Jantung Kadir dan Dirman sudah hampir berhenti. Hanya Slamet yang tetap steady. 
       'Hei. Saya ingin bertanya beberapa hal sama kamu..boleh?' Slamet bermaksud bicara kepada si hantu.
       '.........,' si hantu diam. Lalu melayang jauh ke dalam rumah sambil wajah masih tetap menduduk. 
       Slamet selipkan kembali clurit di pinggangnya dan mengikuti arah si hantu. 
       Dirman dan Kadir? Mereka gemetar dan mengikuti Slamet dari belakang.
       Hantu tersebut melayang perlahan ke arah tangga yang letaknya jauh ke dalam rumah. Ternyata, terpampang sesosok mayat bayi. Bayinya sudah membusuk. Tapi masih ada kulitnya sehingga masih bisa dikenali bentuknya. Slamet langsung menahan lubang hidungnya. 
       'Jadi ini maksud kamu?' Kata Slamet dengan logat jawanya yang kental. 
       Hantu itu langsung masuk ke tubuh Kadir. Kadir gelagapan. Langsung mulutnya berkata dengan suara perempuan yang halus, '3 hari lalu, ada wanita bejat yang membuang bayinya di sini. Aku merasa terganggu. Jadi aku ajak kalian masuk dengan menampakan diri. Maaf bila berlebihan.' Wuss! Hantu itu keluar dari tubuh Kadir dan menghilang dalam kegelapan. Dicari dengan senter'pun tetap tidak ada. 
       Mereka langsung teringat akan gosip perempuan yang mengandung anak haram di kompleks mereka. Perempuan itu hilang entah ke mana. Sepertinya bayi ini adalah buangan dari perempuan itu. 
       Sekarang mereka keluar rumah itu dengan tenang. Pulang ke rumah masing - masing. Dan besok paginya pukul 09.00 WIB, mayat bayi itu dikubur dengan layak. 
       Sejak mayat bayi itu ditemukan, tidak ada lagi ketakutan akan hantu tersebut. Dia hanyalah hantu yang tidak ingin rumahnya dicemari perempuan zina.

-------

      

5 komentar:

Unknown mengatakan...

wah, sereeem....

Gema mengatakan...

untung happy ending :)

bonk AVA mengatakan...

ending begitu yakkkk...ternyata hantunya juga masih punya perasan hehehehh

Unknown mengatakan...

met siang

Rela Rahmah mengatakan...

seerreeem iiihh =.= tapi hantu nya baik :D