Di sinilah aku. Duduk santai di kursi teras memakai sarung dan kopyah, menghisap rokok batangan, sambil merenung..
Merenungi pengalamanku 64 tahun lalu..
***
Saat itu 27 Oktober 1945 dan aku sedang menyapu halaman rumah. Rutinitas sore hari. Ibu sedang menata barang - barang di dalam. Bapak masih di kebun. Tiba - tiba...suasana dipecah oleh suara sirine serangan udara. Aku tahu itu bukan ambulans lewat. Karena melodinya panjang. Sontak aku membuang sapuku dan segera mengambil senapan Arisaka 38 yang aku sembunyikan di bawah kasur. Bapak dan ibu aku panggil untuk bersembunyi di lubang persembunyian yang sudah aku buat khusus. Aku segera siaga di luar.
Sirine masih berkemundang dengan nyaring. Langit kota Surabaya di penuhi oleh pamflet - pamflet yang turun bagai hujan. Satu pamflet jatuh di mukaku.
Aku baca pamfletnya...
'HAH?!' Mulutku mangap kaget. Isi pamflet adalah perintah dari Inggris supaya kami, para pejuang menyerahkan senjata. Menanggapi pamflet itu, aku yang anggota TKR langsung meluncur ke markas setelah berpamitan kepada bapak dan ibu.
Di tengah kayuhan cepat sepeda ontel, aku mendengar, 'Woi! Kadir!.,' Sambil tetap mengayuh sepeda, aku menengok.Ternyata Tono.
'Apa, Ton??' Jawabku.
'Berhenti sebentar!!'
Karena tampangnya serius, plus ekspresinya melotot, aku terpaksa berhenti.
Dia berlari ke arahku, senapan yang sama di genggamnya erat.
'Ini ada apa sebenarnya?!?!' Tanya dia panik.
'Kamu ngga baca pamfletnya? Kita di suruh menyerahkan senjata!'
'Hah?! Aku ngga mau, Dir..sekarang kamu ini mau kemana?
'Ke markas...'
'Aku ikut..'
'Ya ayooo!'
Tono sedikit mengangkangkan kakinya, dan menghempaskan pantatnya di boncengan sepeda Kadir.
'Heh? Ngapain kamu?' Kadir kaget. Tidak terima.
'Lho? Aku kan ikut?' Tono menjawab melas.
'Batukmu lapangan bola! Bawa sepeda sendiri sana! Aku lagi buru - buru ini...,' Kadir turun dari sepeda. '..Kalau bonceng kamu, aku bisa sekarat sesampai di markas..'
Tono mulai mengangguk. 'Iya deh..daripada kakimu pretel..' Ia turun, langsung berlari ke dalam rumah. 'Tunggu! Aku ambil sepeda.'
'Iya aku tunggu..'
Dua menit Kadir menunggu, sudah banyak anggota - anggota TKR yang mengebut atau berlari melewati dirinya. Wajah mereka bercampur antara panik dan semangat. Senjata diselempangkan di pundak, mereka tampak gagah walau hanya memakai kaos oblong.
'Ayo kita berangkat, Dir!' Tono siap dengan sepedanya.
Bersama mereka mengebut ke arah markas. Keringat sudah membasahi baju mereka. Wajah mereka letih. Mulut masih terbuka untuk menyerap lebih banyak oksigen.
Setiba di markas....
***
'Kakeeeeek...,' ayo minum obatnya. Oh, itu suara anak'ku yang perempuan. Gara - gara minum obat, renunganku jadi putus.
Minum obat dulu ah..
Aku berdiri dari kursi. Tongkat di tangan kananku menyangga bobot tubuhku. Tertatih - tatih aku berjalan ke arah meja makan.
'Ini minum dulu, kek..'
'Sudah yang keberapa hari ini?'
'Ini yang kedua, ayo minum..'
Anak'ku yang cantik menawan ini menyuapkan sendok makan berisi obat sirup.
Glek. Aku menelan sirupnya. Aku langsung memutar punggung.
'Lho, Kek? Mau kemana? Ini yang tablet belum..ayo minum!'
'Aduuh..iya..iya deh..' Jawabku renta. Aku menurut saja dengan anak'ku.
***
4 komentar:
cerita yang sarat makna bro....
salam kenal.. :D
jgn sampai kita lupakan... begitu mreka perjuangkan tanah air ini..
cerpennya aku suka.. :)
amanatnya dapet, nice !
salam knal :)
Keren... Padat singkat , soulnya dapet..
Posting Komentar