Andi adalah bocah kelas 2 SD yang punya tabiat 'memaksakan kehendak'. Dia akan selalu memaksa, memaksa, dan menangis. Menangis kalau keinginannya tidak dituruti, dan mungkin mencret kalau keinginannya beli rujak dituruti.
Seminggu lalu dia diajak ibunya ke toko mainan. Katanya sih, cuma liat - liat aja. Ibunya menuruti sembari mengingatkan, 'Cuma liat - liat lho, ya!'
'Iyaaa,' katanya panjang. Sebel mungkin.
Di toko mainan, dia memang cuma melihat - lihat. Matanya jeli memandang robot - robotan didalam kotak. Sampai akhirnya, mukanya berubah serius memergoki mainan Gundam. Dia tengok harganya, tertera menawan Rp.500.000. Andi jatuh cinta kepada mainan Gundam itu pada pandangan pertama, dan Andi ingin segera memiliki si Gundam. (Romantis, yah?)
Melihat nominal harga yang nolnya ada lima itu, dia sempat berpikir ulang, 'Wah, harganya segini, ibu mau beliin ga, yah? Tapi Ardan punya yang warna item, kalo aku beli yang putih, pasti matching!'
Pertimbangan ulang soal harga cuma sebentar, yang ada malah keinginan menyaingi Gundam temennya.
Andi letakkan kembali kotak berisi Gundam itu ke tempat semula. Dia berjalan ke ibunya.
'Ibuuuuu..belikan gundam ituuu,' jurus andalan Andi keluar, merengek.
'Eiiits, kan ibu bilang cuma liat - liat? Ga boleh!' jawab ibunya tegas.
'Ayoo buuuk..liat dulu dong barangnya. Bagus banget, buu!'
'Iya deh. Mana sih barangnya?' Ibu Andi berjalan dituntun Andi ke Gundam tercinta.
Ibu Andi melongok ke harga, 'Haduuuh! Ini mahal, Ndi, jangan yang ini ah!'
Mendengar jawaban negatif sang ibu, Andi merengek. Sempat guling - guling di lantai, tapi segera digendong ibunya pulang.
Dalam perjalanan tak henti - hentinya Andi menangis. 'Aku mau gundaaam!! HUWAAAA!'
Ibunya ya cuek.
Puncaknya sampai hari ini, seminggu setelah pandangan pertama Andi pada si Gundam. Andi melaksanakan aksi mogok makan, mogok sekolah, mogok minum obat, dan segala jenis 'mogok' Andi lakukan. Dia harus dipaksa memakai sepatu sebelum sekolah, karena bersikeras, 'Aku ngga mau sekolah sebelum beli Gundam!'
Ibunya hanya bisa menjawab seadanya, 'Ibu belum ada uang, naak. Bapak lagi krisis tuh ama bosnya. Kamu ga kasian?'
'Gak! Belikan Andi gundam atau Andi ga mau pake sepatu!'
'Ya sudah, sana ga usah pake sepatu ke sekolah. Biar nyeker, terus kakinya sakit kena batu, terus diketawain temen - temen karena kayak gembel ngga pake sepatu ke sekolah.'
Andi pun langsung memakai sepatu.
Di perjalanan sekolah, Andi melihat pedagang air keliling. Pedagang itu kira - kira berusia 40 tahun, dan badannya kurus kering. Bajunya bergambar kampanye presiden. Dengan pelan namun pasti, pedagang tua itu menarik gerobak berisi jirigen - jirigen air.
Jalan Andi terhenti memerhatikan pedagang itu. Dia bertanya - tanya, kenapa kok bapak itu kerjanya keras sekali? Kok ngga sama kayak pedagang warung yang duduk aja nunggu pembeli? Susah banget sih, tinggal duduk, pembeli kan dateng. Nyari uang gitu aja kok susah. Pikiran bodoh Andi berkecamuk di kepala.
Kebetulan arah jalan pedagang air sama dengan arah jalan Andi ke sekolah, jadilah Andi menguntit di belakang sambil memerhatikan.
Tiba - tiba pedagang air itu berhenti. Ada pembeli yang menghampiri. Diam - diam Andi menguping transaksi jual - beli.
'Pak, satu jirigen tolong,' kata seorang ibu - ibu gemuk. Perawakannya persis ibu - ibu kompleks.
'Satu, ya, bu,' pedagang itu menurunkan satu jirigen, 'ini bu.'
'Tolong tuangin di baskom yang di sana itu, ya,' kata ibu itu menunjuk baskom di depan warungnya.
'Iya, bu,' pedagang itu sambil menggotong jirigen yang berat. Ototnya nampak kekar, mirip punya Roronoa Zorro.
'Berapa, Pak?'
'Seribu, bu..'
Ibu itu menyerahkan selembaran warna biru bergambar pria kumisan bawa golok.
'Terima kasih,' kata pedagang itu.
Sekarang, pedagang itu mengantongi uang seribuan, dan ibu itu kembali ke warungnya. Matanya lalu berhenti ke arah Andi yang memerhatikannya sambil senderan di pohon.
'Ada apa, nak?'
'Ah ennn...dak.., pak,' Andi menjawab gagap.
'Mmm..kamu mau ke SD Taruna, ya? Yuk jalan sama - sama bareng, bapak.'
'Oke deh, Pak! Kebetulan di sana banyak anjing galak.'
Merekapun berjalan berdua. Andi sempat menanyakan, kenapa bapak itu berjalan segitu jauhnya, hanya dapat seribu rupiah ketika ada pembeli.
Bapak pedagang tersenyum, 'Nak, seberapapun hasilnya, yang penting halal. Dan hasil yang halal itu, selalu diawali dengan kerja keras.'
'Tapi kok dapatnya cuma seribu tuh?'
'Ya nggak lah! Bapak sehari paling dapat lima belas ribu. Kalo untung, ya dua puluh ribu.'
'Cukup, Pak?'
'Cukup. Anak bapak yang jadi penulis buku bisa mencukupi keluarga. Bapak tetep kerja karena tidak mau nganggur berhubung badan masih sehat. Nah, kita sampai di sekolahmu, sana masuk.'
'Oke dah, Pak. Dadaaah,' kata Andi imut melambaikan tangannya.
Si Bapak Pedagang balas melambaikan tangannya dengan senyum ramah.
Di kelas, Andi tak melupakan pelajaran berharga hari ini. Di kepalanya, terdoktrin kalimat 'nyari uang ternyata susah'.
Ketika di rumah, betapa kagetnya Andi ketika terpampang kotak Gundam di atas meja tamu. Ternyata bapaknya baru saja mendapat bonus pekerjaan.
Hari yang baik untuk Andi.
---
Lepas dari posting ini, aku mau berterima kasih banyak pada sang cerpenis bercerita yang sudah rela melelahkan ibu jarinya buat nge-review blog ini.
Cihuy!
Makaseh, Mbak!
Hehee.
Sumpah, aku baru nyadar kalo blog ini di review. Soalnya, aku udah jarang membuahkan ide di sini. Biasanya di wirasanubari: catatan harian untuk menulis kegiatan sehari - hari.
Hehehe..baru pertama dapet komen banyak. Siap - siap saya kunjungi, yaa!
2 komentar:
hmmmmm
andi andi....
tapi bagus deh akhirnya andi bisa tau kalo cari uang itu susah,..
selamat hari selasa, wira
semoga hari ini menyenangkan :D
ditunggu cerita2nya lagi yak, heheu
wah... langsung rajin berdoa tuh si andi, biar bapaknya dapet bonus terus...
Posting Komentar