Minggu, 18 April 2010

Bermain ke Pulau Jawa - Chapter 1: Ayo Turun Semua!!

        'Ngeeeeeeeeeeng'. Dengan diantar bapak aku tembus dingin'nya pagi  dengan motor. Saat itu sekitar jam 07.00 wita, 20 Desember 2009. Hari dimana sekolahku mengadakan Study Tour ke Jawa. Tanganku erat memeluk kopor yg diduduk'kan di pahaku, bapak sudah duduk di ujung jok motor. Pikiranku berbahagia dapat kesempatan main - main ke Jawa bareng temen. Apalagi sekolah berencana singgah ke Malang, Djogja, daaan..yah rencananya habis itu kita pulang.


        Sekolah sudah beberapa ratus meter dari kami, terlihat bis - bis berbaris rapi di pinggir jalan. Bisnya bagus, ada ACnya di kabin, dan dilengkapi setir di depan kursi supir. Warna bisnya juga beragam, malah mungkin Mejikuhibiniu. Emang Pelangi? Gak lah, tukang cat bisnya aja yg abstrak.
        Kami menepi, kopor diturunkan dengan hati - hati. Takut pretel. Kopor yg berat dan sesak. Aku aniaya segala barang - barangku dengan 'menciutkan' mereka sekecil - kecilnya agar bisa masuk kopor. Ah bodo.  Bapak juga tidak berlama - lama setelah menurunkan kopor, beliau langsung pergi pulang setelah aku salimi. Begitu juga aku, tidak pula berlama - lama terpaku di depan gerbang. Aku berjalan ke arah halaman depan sekolah yg ternyata sudah dipenuhi oleh remaja - remaja siap wisata. Akhirnya aku temukan kelompok'ku dan bergabung dengan mereka. Aku lihat Yogi, temanku, sedang menyelempangkan jaketnya di pundak. Terlihat mirip penjual jamu. Richy, dandanan'nya mirip Kangen Band siap konser. Tapi biarlah. Toh aku sendiri tidak seberapa memerhatikan fashion.


        'Yak! Ayo coba absen! Hadir semua ini?' Seru guru pengawas. Kami lihat sekeliling, kelompok tur kami keliatan'nya sudah utuh, lengkap, dan kenyang perutnya. Kami ingin cepat berangkat.
       Beberapa menit kemudian, sepasukan 'Remaja Ingin Tur' dengan serentak bergerak keluar sekolah. Di luar masih banyak para orang tua yg nongkrong menemani anaknya. Atau memang mereka'nya yg ingin ngedumel atau eksis di depan sekolah? Entahlah. Aku berjalan berdampingan dengan Yogi. Sampai di dekat mulut gerbang dia berseru, 'Hei, liat itu siapa..'
        Aku arahkan mataku sesuai petunjuk mulianya.
        Ahh. Ternyata si dia. Kami bertemu mata saat itu. Kami memang sudah sangat akrab. Aku coba tersenyum menyapa, dia balas juga senyum menyapa dengan hampir bersamaan. Senyum kami lebar, sampai tak luput juga gigi kami berpandangan. Syukur sudah sikat gigi tadi.

        Semua kelas memasuki bis mereka masing - masing. Tapi tunggu, bis kami diletak'kan di samping RSU Tabanan, yg kira - kira berjarak 500 m dari sekolah. Kami berjalan menuju bis dengan beriringan. Tidak bergandengan. Kami berangan - angan bis kami seperti apa. Akankah kita naik bis Damri? Semoga saja bisnya jauh lebih mewah dari bis kelas lain. Berbekal harapan itu, kami selusuri aspal dengan hati riang.
        Dan akhirnya. 'WUA!!' Kami syok. Bisnya ternyata jauh dari angan - angan. Bisnya kecil mungil mirip kardus. Di tubuh bis memang bertuliskan 'Bis Pariwisata', tapi bisnya sendiri berbentuk 'Angkutan Kota Ber-Air Conditioner'. Bis apa ini? Kami masuki kabin'nya yg mirip selokan, sempit. Kami duduki kursi kecilnya, sesak. Kesempitan makin bertambah karena kopor - kopor dan tas dibawa masuk pula ke kabin. Kami'pun kegencet di dalam kabin bis.
         Para siswa kelas G protes. Merasa dipermalukan diberikan bis yg sungguh tidak memadai untuk belasan jam perjalanan darat. Orasi'pun berkumandang.
        'Pak!! Masak ke Jawa naik kayak beginian!?' protes seorang remaja, lupa siapa.
        'Yah. Yg penting kita jalan tho.' Pak guru jawab santai sekali.

        Masih banyak lagi orasi - orasi berkumandang di kabin bis mainan itu. 'Pak! sempit nih!', 'Aduh, pak! bis apaan nih? Ganti dong!', 'Pak! Ayam jago saya ilang!!'.
        Beruntung para orang tua masih mengikuti anak - anaknya sampai bis tujuan. Mereka sangat tidak terima anak mereka diberikan bis mainan. Akhirnya orasi anak SMP dibantu dengan orasi Oom - oom dan tante - tante. Tidak puas para orang tua protes dari luar bis, salah seorang orang tua, ibunya Pandi tepatnya, masuk ke bis membawa anjing Chi-Hua-Hua'nya dan bilang, 'Ayo semua turun! turun semua! ga usah naik bis kayak begini!'.
        'YAA! MERDEKA!! IBUNYA PANDI HEBAT! HIDUP MAMA!' anak - anak berteriak gembira orasinya dibantu oleh ibu - ibu pembawa Chi-Hua-Hua.

        Akhirnya semua anak turun dari bis. Akibat dari konflik ini, kelompok kami tertinggal jauh. Bis lain sudah memutar roda - roda'nya memulai petualangan, sedangkan bis (kecil) kami masih berpose di samping RSU. Pertimbangan demi pertimbangan, waktu demi waktu, kata demi kata, panitia sepakat untuk menukar bis. Sialnya, markas bis ada di Denpasar.
        Kami duduk menunggu di samping RSU. Tampang riang gembira dan semangat diganti dengan tampang pasrah lunglai. Lama - lama, kami jadi mirip orang batal mudik. Bosen. Tapi ada saja kegiatan yg dapat mencerahkan suasana. Seperti main - main gendang, nyanyi - nyanyi, atau teriak - teriak kalau ada cewek cakep lewat naik Vario.

        Menit di arlojiku sudah bertambah banyak sejak konflik tadi. Tapi tiba - tiba ada yg nyeletuk, 'Eh, itu bisnya!!' Aku tengok'kan kepala. Terlihat kaca bis yg besar dan lebar beserta supirnya. Ahh. Akhirnya bisnya datang.

^_^

2 komentar:

Yui mengatakan...

keliatannya menyenangkan liburannya...

salam kenal..

wirasanubari mengatakan...

salam kenal juga :)