Sabtu, 24 April 2010

Bermain ke Pulau Jawa - Chapter 4: Nasi Goreng

       Dinihari di hotel Malang masih seperti sore hari di taman bermain. Mereka semua berlarian memakai sarungnya di pundak. Entah apa yg dipermainkan. Petak umpet mungkin? Atau main PSK - PSK-an? Yang satu jadi Satpol PP, yang satu jadi PSK. Jadi mereka kejar - kejaran gitu.

       Apapun itu, aku engga ikut. Capek! Lapar juga.
       Aku coba cari makanan di luar. Begitu sampai di trotoar, di seberang jalan ternyata ada McDonald.
       Euh. Gimana, ya? Sayang nih fulus kalau habis dipakai jajan di McDonald.

       Memang anak - anak pada berangkat ke sana. Tapi aku jauh memikirkan keefektivan dalam memakai uang. 'Kalo aku ke McD. Ngapain? Jauh - jauh ke Malang malah uang habis di McD? Ga kalee! Di Bali juga ada McD.' Inilah salah satu cara berpikir efektifku. Saat itu aku jalan dengan Richi, Hendra, Yogi. Sebagai sahabat yang sepaham dan se-agama juga sebangsa tapi lain ibu dan bapak, kami setuju tidak makan di McDonald!
       Kami telusuri trotoarnya. Naik jembatan penyeberangan. Ada suka cita saat menaiki jembatan penyeberangan, karena di Bali engga ada yang kayak beginian.
    
       Di kejauhan terlihat rombong kayu dengan lampu petromaknya menerangi jalan.
       'Eh! Lihat apa itu? Makan di sana aja, yuk!' Aku mengajak kepada sahabat.
       'Coba kita deketin...,' Hendra melangkah lebih cepat. 'Ah! Ternyata Nasi Goreng! Kita ke sana aja!'
       'Ayok!' Jawab kami setuju.
       Kami seberangi jalan sembari tengok kiri - kanan. Memang jalan sudah sangat sepi karena ini sudah dinihari. Tapi bukan tak mungkin ada pesawat mendarat darurat di jalan selagi kami menyebrang.
      Yaya. Menkhayalnya kebangetan. Tapi mungkin lho!

       'Pak, nasi gorengnya empat porsi.' Aku mengajukan request kepada 'Pak Nasi Goreng'
       'Makan di sini?' Tanyanya sambil tetap mengorek - ngorek wajan.
       'Tentu, Pak.'
       'Tunggu sebentar, ya..' Pak Nasi Goreng berharap kami sabar menunggu nasi gorengnya.
       Selagi kami menunggu nasi goreng, ada pria paruh baya yang dari tadi sudah nongkrong bersama Pak Nasi Goreng. Kebetulan orangnya ramah - tamah. Meski dia memakai kaos loreng corak tentara, dia tidak terlihat membawa senapan SS2 atau granat di pinggangnya.

       'Dek, dari mana nih?' Oom itu membuka pembicaraan.
       'Kami dari Bali, Oom. Lagi study tour.' Jawab Richy.
       'Oooooh.....' Si Oom tampak kehabisan pertanyaan.
       'Oom sendiri? Dari sekitar sini?' Aku coba mengakrabkan diri.
       'Iya..Oom dari sekitar sini.'
       'Lagi ngeronda, Oom?' Tanyaku.
       'Ga juga. Lagi iseng aja nongkrong di sini...,' sesekali Oom itu menghisap rokoknya, lalu meniup asapnya. 'Oya, gimana kabarnya Bali? Oom dulu pernah ke sana.'
       'O ya? Bali ya gitu aja sih, Oom. Tambah panes aja..he he he.' Kali ini Hendra yg mengakrabkan diri. 
       Obrolan kami menjadi semakin akrab dan dekat. Padahal tak kurang dari 15 menit lalu kami saling menyapa. Obrolan terus mengalir seperti air. Mulai dari sampah di Bali, sempitnya jalanan di Bali, sampai Amrozi cs di Bali.
       Tak terasa nasi gorengnya sudah siap. Dibagikan piring demi piring pada tangan kami. Aromanya sedap dan panas. Cocok dengan dingin'nya Malang jam 2 pagi.

       Kami sangat bersyukur pada diri kami sendiri karena tidak melangkahkan kaki ke McDonald seberang jalan tadi. Suasana hangat di rombong nasi goreng yg per-porsi seharga Rp.4000, masih lebih nyaman ketimbang dingin'nya AC McDonald yg mungkin sekali makan bisa menghabiskan Rp.20.000.

      Piring kami sudah bersih. Aku utangin si Hendra buat bayar nasi gorengnya. Sambil mengucapkan salam perpisahan kepada 'Pak Nasi Goreng' dan 'Oom Kaos Loreng', kami kembali ke hotel. Interaksi selama kurang lebih 40 menit selesai sudah.
       Mungkin mereka berdua sudah lupa dengan wajah kami. Begitu juga kami sudah lupa dengan wajah mereka berdua. Namun kehangatan obrolan saat itu masih menghangatkan hati sampai sekarang. 
      
^_^

Tidak ada komentar: