Rupanya bis kami akan diganti. Dari segi penampilan interior, memang sih tidak layak. Paling belakang, kamar mandi tidak berfungsi. Kardus dan ban cadangan tergeletak. Dan kursi di samping kiri jatuh ke belakang. Kursiku sendiri juga bobrok. Serem. Kursinya berasa mau lepas kalau bis ngerem mendadak. Sampai setiap bis mengerem, kami sebangku serentak, 'WAAA! Pegangan! Pegangan!' Kalau bis sudah jalan biasa, 'Wah! Tadi hampir aku jungkir balik.'
Bis pengganti masih dalam perjalanan menuju Ketapang. Bis si Dia yg dari tadi sudah rela menunggu, terpaksa melanjutkan perjalanan. Padahal harapanku bis kami bisa jalan bareng. Kalau enggak bisa bareng, ya balapan.
Kali ini kami tidak tertinggal 1 jam seperti sebelumnya, tapi 3 jam. Setiap saat ada bis kosong keluar ferry, teman - teman menebak, 'Eh! Itu bisnya, ya!? Itu?' Ketika ternyata bisnya lolos, 'Yah bukan itu. Asem.'
Sepintas tur kami mungkin terkesan kacau. Tapi kami anggap ini anugrah untuk menciptakan suatu kenangan dan kesan yg kuat. Dengan diterjang berbagai kendala, justru kenangan yg tercipta akan semakin hebat. Suka dan duka bersama akan jauh lebih enak diingat di kemudian hari. Kami hadapi masalah dengan tertawa.
Terlihat bis putih melintasi jembatan penyebrangan. Anak - anak mulai menebak lagi, 'Eh! Jangan - jangan itu bisnya?!'
Bisnya berbelok ke arah kami. Ternyata ini bisnya.
'HOREEE!' Sorak - sorak bergembira berkumandang.
Kami bawa barang bawaan ringan kami ke bis pengganti. Kopor - kopor di bagasi biar sopir dan kondektur yg mengatur. Bis pengganti ini, terlihat jauh lebih rapi dan layak. Memang masih kalah besar ketimbang bis sebelumnya.
Aku tetap mengambil kursi di depan pojok kiri. Dan tetap juga duduk bersama partner setia, Richi. Sebelum memulai perjalanan, kami makan siang di Rumah Makan yg memang khusus untuk musafir.
'Wah. Kita makan dulu nih?' Kataku heran.
'Yaiyalah.' Jawab teman sebelah.
Batinku sudah berpikir, 'Kayaknya Rumah Makan enak, nih.'
Dari keliatannya, memang tampak bagus. Kursi dan meja tampak elegan. Desain rumah makan juga elegan. Karyawan banyak, tambah mengesankan bahwa ini Rumah Makan Es Degan. Eh salah. Rumah Makan elegan.
Tapi kulit luar bukanlah segalanya. Kualitas makanan'nya jauh lebih rendah daripada makanan di kantin sekolah. Meja prasmanan belepotan dengan makanan - makanan tumpah. Wadah teh basah kuyup terkena tumpahan.
Penampilan trendi kami serasa tidak cocok untuk makan di sini. Bukan'nya gengsi.
Aku mulai antri di meja prasmanan. Piring sudah di tangan. Karena kami rombongan terakhir, kami dapat makanan sisa. Yang ada di prasmanan hanya soup, tahu, dan daging ayam. Aku ambil semua lauk itu.
Selesai sukses mendapatkan jatah pangan, aku cari meja yg ramai. Supaya bisa ngobrol.
Aku suap'kan nasi dan lauk ke mulutku, dan....
Nasinya keras. Soupnya lembek. Tahunya hambar. Daging ayam'nya lumayan
Dalam hati aku berkata, 'Ih..makanan apaan nih?! Mending aku bayar lebih Rp.20.000 atau berapa untuk makan lebih enak dan bernutrisi.' Soup yg kumakan juga tampaknya tidak baru. Cuma dihangatkan kembali.
Tapi bagaimana'pun, perutku lapar.
Aku putuskan tambah. Aku kembali ke meja prasmanan, ambil soupnya saja. Aku enggak mau nasi keras itu.
'Wuih, Wir! Kamu nambah nih?' Seru mereka begitu aku kembali bawa makanan.
'Mau gimana lagi...,' aku menyendok soupku. 'Aku lapar.'
'Ya sudah. Habisin tuh!'
'Wokeh...' Jawabku
Semua sudah selesai makan. Banyak makanan sisa di atas meja. Mereka tidak dihabiskan oleh 'Yg Makan'. Padahal biar begitu, itu dosa'kan? Membuang - buang makanan sama saja tidak menghargai rezeki. Kalau sadar tidak enak, ya jangan ambil banyak - banyak.
Oke.Cukup omelan'nya.
Bis melanjutkan perjalanan yg tertunda. Kali ini tujuan kami adalah Malang.
Jam satu dinihari. Bis kami mencapai hotel sambil membunyikan rem hidroliknya, 'Cessssssh'. Bis yg lain sudah pada parkir dan bersih. Anak - anak kelas lain sudah berganti baju dan bersantai di ruang tamu hotel. Aku turunkan koporku. Di sebelah ada Richi.
'Wah. Kita ketinggalan jauh banget, ya?' Kataku kepada Richi sambil menyeret kopor.
'Ya jelas. Panitianya bobrok.' Jawabnya sebal.
Kami mendaftar ke resepsionis. Untuk mengambil kunci kamar, Richi yg mengurus.
'Wokeh! Kita dapat kamarnya...,' serunya sambil bawa - bawa kunci. 'Ayo, Wir!'
'Kamar berapa kita?' Aku penasaran.
'Kamar 24...,' Dia memandangku serius. 'Kamu kayaknya cocoknya di kandang ayam deh. Rambut kamu jambul gitu.'
'Enggak makasih. Udah bau gini.' Jawabku jutek.
Setelah bolak - balik mencari kamar. Ternyata mencari kamar tidak semudah pipis sembarangan. Naik tangga. Menyusuri beranda. Ternyata, 'Woi! Ini urutan 30-an!' Turun tangga lagi. Kami keliling - keliling tanpa arah. Anak kelas lain yg sudah dapat kamar hanya bisa menonton kami.
Aku malu ditonton.
Kami ikuti urutan kamar nomer 20-an. Dapat! Kamar berukiran angka 24 di atas pintunya.
Ternyata kamarku dan kamar si Dia hanya dipisahkan kamar mandi umum dan kamar nomer 25.
Terasa dekat.
Kami merebahkan diri di kasur besar itu. Di kamar ada Aku, Hendra, dan Richi. Tak lama setelah meletak'kan tas - tas di lantai, 'Eh, Wir! Kamu bawa jajan?' Hendra bertanya.
'Bawa.'
'Mana?'
'Itu di tas. Nanti aja kita makan sama - sama selesai mandi.' Jawabku bijak.
'Mandinya juga sama - sama?' Pertanyaan konyol.
'Sori. Aku enggak homo.'
Meski sudah dinihari, anak - anak banyak yg masih belum tidur. Mereka berlarian, tertawa, nongkrong, dan masih banyak lagi.
Begitu aku mau mandi, 'Hei! Kenapa habis nih airnya?!' Kataku dengan nada tinggi.
'Salah kamu sendiri sih! Enggak dari tadi aja mandinya.' Sahut Richi.
'Berarti aku harus mandi di...,' aku bicara sedikit terbata. 'Kamar mandi umum?'
'Ya coba aja sana.'
Tiba - tiba Hendra menyahut, 'Hiiiii. Kamu berani, Wir? Entar didatengi hantu, lho.'
'EH?!' Aku kaget. Merinding juga.
'Namanya juga hotel. Pasti ada yg nungguin.' Dia makin menakut - nakuti dengan bibir miring - miring.
'Halah! Bodo ah! Aku mau mandi. Sampai si Hantu ngintip aku mandi, tak jitak palanya.' Aku mencoba memberanikan diri.
'Hahaha...,' Hendra tertawa garing. 'Sekalian perkosa kalau hantunya cewek.'
Jebyar. Jebyur. Jebyar. Jebyur
Suara cedok memukul air di bak mandi.
Air di kamar mandi umum ini memang jauh lebih melimpah. Tapi lantainya berlumut. 'Kata orang, kalau tempatnya lembab gini pasti ada jin'nya, ya?' Tanyaku dalam hati.
'Bodo ah. Cuek aja.' Pikirku lagi untuk menenangkan diri.
Padahal selagi mandi, aku sibuk merinding. Pikiran mulai mengarah ke pocong, kuntilanak, genderuwo, kepala sekolah.
Ya benar! Yg paling terakhir itu menyeramkan juga.
Akhirnya selesai. Tes mental di kamar mandi yg bikin bulu kaki dan kumis merinding usai sudah. Aku pakai handuk di pinggangku. Jaga supaya enggak melorot. Masuk kamar dan mulai berpakaian bersih.
'Segarnyaaaaaa~..' Batinku keenakan.
^_^
3 komentar:
Kok acara tournya berantakan gitu ya..? Aku paling BT kalau dpt tempat makan yg jorok dan makanannya gak enak...
Terus... lantai kamar mandi berlumut ? Enggak aja deh... hehehe
Nunggu lanjutannya aja deh...
BTW, makasih dah mampir dan link-mu sudah terpasang kok. Thankss...
@the others: awalnya semua pada bete...tapi apa mau dikata..ujungnya juga indah..:)
@catatan kecil: ur welcome!:))
Posting Komentar